Larut terlarut dalam kesendirian,
campur tercampur dalam luka keperihan,
dan disini Q kan rangkai jiwa-jiwaQ sesukamu,
hingga senyummu kan terbitkanQ dalam kegelapan,
dan Q kan tetap rela,
meski harus tergadai sisa.sisa nafasQ padamu.
Ratap tertatap di jerami.jerami berdebu,
rapuh terapuh dhati di tengah gubuk.gubuk penantian,
dan kembali disini pun Q kan hias lukis parasmu,
dengan bahagia dan cinta terkikis,
meski saatnya Q kan terjelma jadi molekul.molekul lirih,
ataupun mozaik.mozaik siksa yg terus jadi lagu.lagu dikala Q merindumu.
Detak demi detik,
telah janjikan Q nikmati akhir cinta padamu,
karena tubuh.tubuh ini telah mati raga,
sebab terjangkit virus.virus yg tlah ukir prasasti dalam nyawaQ,
hingga hanya seujung jemariQ kan terlelap melihatmu.
Tapi tolong ingat sabda ini,
"cintaQ...meski jasad ini tercabik sebab angkuhmu,
meski dunia.dunia kasih tlah terenggut dan jatuh ke jurang acuhmu,
dan meski kau bakar semua bait.bait surat dan puisi.puisi dari hatiQ..
Sifatmu ini bukan jadikan Q benci,
tapi terus bius Q tuk tetap cintaimu slamanya,
ingat slamanya..
Dalam prasasti ketulusanQ...
syukroni dzunnurain
Tidak ada komentar:
Posting Komentar